
- Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 mendorong percepatan pengolahan sampah menjadi energi melalui teknologi waste-to-energy ramah lingkungan.
- Lima metode utama pengolahan sampah menjadi energi meliputi insinerasi, gasifikasi, pirolisis, penguraian anaerobik, dan RDF.
- Waste-to-energy membantu mengurangi sampah di TPA, menekan pencemaran, serta menghasilkan energi terbarukan untuk mendukung ekonomi sirkular.
Sobat EBT Heroes! Pengelolaan sampah nasional kini semakin terarah melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Regulasi ini memastikan pengolahan sampah menjadi energi terbarukan berbasis teknologi ramah lingkungan dapat berjalan lebih cepat, efisien, dan bernilai ekonomi.
Konsep waste-to-energy (WTE) hadir sebagai solusi ganda: mengurangi penumpukan sampah sekaligus menghasilkan energi bersih. Berikut lima cara pengolahan sampah menjadi energi beserta kelebihan dan kekurangannya.
Baca Juga:
- Mengenal PSEL: Dari Sampah Menjadi Energi Listrik
- Alur Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dan Skema Off-taker di Indonesia
5 Cara Pengolahan Sampah Menjadi Energi
1. Insinerasi

Insinerasi adalah pembakaran langsung sampah pada suhu tinggi untuk menghasilkan panas dan listrik.
Kelebihan:
- Cepat menghasilkan listrik dan panas
- Cocok untuk sampah kota yang tidak terpilah
- Mengurangi volume sampah secara signifikan
Kekurangan:
- Teknologi kompleks dan biaya investasi tinggi
- Membutuhkan sistem filtrasi dan pengawasan emisi yang ketat
Metode ini banyak digunakan di kota besar karena mampu menangani sampah dalam jumlah besar secara cepat.
2. Gasifikasi

Gasifikasi merupakan proses oksidasi parsial sampah yang menghasilkan gas sintetis (syngas) untuk bahan bakar pembangkit listrik.
Kelebihan:
- Emisi lebih rendah dan lebih efisien dibanding insinerasi
- Hasil energi fleksibel untuk berbagai kebutuhan
Kekurangan:
- Produksi listrik tidak sebesar insinerasi
- Sampah harus terpilah dengan baik
Gasifikasi dinilai lebih ramah lingkungan, tetapi membutuhkan kontrol kualitas bahan baku.
3. Pirolisis

Pirolisis adalah penguraian sampah secara termal tanpa oksigen yang menghasilkan bahan bakar cair, gas, atau residu padat.
Kelebihan:
- Tidak menghasilkan abu sebanyak insinerasi
- Cocok untuk sampah plastik dan limbah industri
- Berpotensi menghasilkan bahan bakar alternatif
Kekurangan:
- Tidak cocok untuk sampah basah atau organik
- Sensitif terhadap jenis dan kualitas sampah
Teknologi ini banyak dikembangkan untuk mengolah limbah plastik menjadi energi.
4. Penguraian Anaerobik

Penguraian anaerobik adalah proses penguraian sampah organik tanpa oksigen menggunakan mikroorganisme untuk menghasilkan biogas.
Kelebihan:
- Ramah lingkungan
- Cocok untuk sampah organik skala kecil hingga menengah
- Menghasilkan biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai energi
Kekurangan:
- Hanya efektif untuk sampah organik
- Produksi energi relatif lebih kecil
Metode ini umum diterapkan pada limbah pasar, rumah tangga, dan industri makanan.
5. Refuse-Derived Fuel (RDF)

Refuse-Derived Fuel (RDF) adalah proses mengolah sampah menjadi pelet atau serbuk bahan bakar yang dapat digunakan di industri seperti pabrik semen atau boiler khusus.
Kelebihan:
- Dapat menggantikan sebagian bahan bakar fosil
- Mendukung ekonomi sirkular
Kekurangan:
- Membutuhkan fasilitas pemrosesan dan pemisahan sampah
- Kualitas RDF bergantung pada komposisi sampah
Manfaat Lingkungan dari Waste-to-Energy
Pengolahan sampah menjadi energi memberikan manfaat besar bagi lingkungan dan masyarakat, antara lain:
- Mengurangi penumpukan sampah di TPA
- Menekan pencemaran tanah dan air
- Menghasilkan energi terbarukan untuk kota
- Mendukung ekonomi sirkular
- Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah
Dengan dukungan regulasi dan partisipasi masyarakat, waste-to-energy dapat menjadi solusi strategis dalam pengelolaan sampah sekaligus mendukung transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
#ZONAEBT #EBTHeroes #PSEL #Sampah