
- Minyak jelantah berpotensi diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) sebagai bahan bakar pesawat ramah lingkungan untuk menekan emisi karbon sektor aviasi.
- Pemanfaatan bioavtur dari minyak jelantah tidak hanya mengurangi emisi hingga sekitar 80%, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah domestik.
- Pengembangan bahan bakar pesawat berbasis minyak jelantah menjadi strategi penting transisi energi dan upaya mewujudkan aviasi rendah karbon di Indonesia.
Sobat EBT Heroes! tahukah sobat bahwa minyak jelantah yang sering kita anggap limbah sepele ternyata bisa menjadi solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor aviasi? Minyak bekas gorengan yang selama ini kerap dibuang ke saluran air atau tanah sebenarnya menyimpan potensi besar sebagai sumber energi terbarukan.
Jika dibuang sembarangan, minyak jelantah dapat mencemari lingkungan, merusak tanah, dan mengganggu sistem air. Namun dengan pengelolaan yang tepat, limbah domestik ini justru dapat diubah menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan yang dikenal sebagai Sustainable Aviation Fuel atau SAF.
Pemanfaatan bahan bakar pesawat dari minyak jelantah menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan emisi karbon yang dihasilkan industri penerbangan. Sektor aviasi dikenal sebagai salah satu penyumbang emisi karbon yang terus meningkat seiring pertumbuhan mobilitas global. Oleh karena itu, inovasi energi bersih seperti bioavtur berbasis minyak jelantah menjadi solusi yang tidak hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga mendukung transisi energi dan ekonomi sirkular.
Minyak Jelantah dan Tantangan Lingkungan

Minyak jelantah merupakan minyak goreng yang telah digunakan berulang kali dan umumnya dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, usaha kuliner, hingga industri makanan. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari dampak buruk pembuangan minyak jelantah secara sembarangan. Ketika dibuang ke saluran air, minyak jelantah dapat menyumbat pipa dan mencemari badan air. Jika dibuang ke tanah, zat berbahaya di dalamnya dapat merusak struktur tanah dan mengganggu organisme di sekitarnya.
Di tengah tantangan tersebut, pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi terbarukan menawarkan solusi ganda. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, pengumpulan minyak jelantah juga membuka peluang ekonomi baru.
Kini, minyak jelantah bahkan dapat dijual dan dikumpulkan melalui skema pengumpul khusus, mirip seperti sistem SPBU atau bank limbah, sebelum akhirnya diolah menjadi bahan bakar ramah lingkungan. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi sirkular berbasis limbah domestik.
Baca Juga:
- 5 Sektor Penyerap Energi Terbesar di Indonesia 2020-2024
- Harga Listrik PSEL Ditetapkan 20 Sen Dolar per kWh, Apa Artinya bagi Transisi Energi Kota?
Dari Limbah Jadi Energi Terbarukan untuk Aviasi

Proses pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat tidak dilakukan secara instan. Minyak jelantah yang terkumpul terlebih dahulu melewati tahap penyaringan untuk memisahkan kotoran dan sisa makanan. Setelah itu, minyak tersebut menjalani proses pemurnian agar memenuhi standar kualitas sebagai bahan baku energi. Tahap selanjutnya adalah produksi bioavtur, di mana minyak jelantah diolah secara kimia dan teknologi menjadi Sustainable Aviation Fuel yang aman digunakan untuk penerbangan.
Setelah diproduksi, SAF kemudian dicampurkan dengan avtur konvensional sesuai dengan standar internasional sebelum didistribusikan ke sektor aviasi. Mulai dari penyimpanan, produksi, pencampuran, distribusi, hingga akhirnya digunakan oleh pesawat, seluruh rantai proses ini dirancang untuk memastikan keamanan sekaligus keberlanjutan. Dengan teknologi yang terus berkembang, pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan bakar pesawat menjadi semakin realistis dan siap diimplementasikan secara luas.
Keunggulan SAF Berbahan Baku Minyak Jelantah
Salah satu keunggulan utama Sustainable Aviation Fuel berbahan baku minyak jelantah adalah kemampuannya menurunkan emisi karbon hingga sekitar 80% dibandingkan avtur konvensional. Penurunan emisi ini menjadi kontribusi signifikan dalam upaya dekarbonisasi sektor aviasi yang selama ini sulit dikendalikan. Selain itu, SAF juga membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mempercepat transisi menuju energi bersih.
Tidak hanya dari sisi lingkungan, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF juga memberikan manfaat ekonomi. Pemanfaatan limbah domestik menciptakan nilai tambah baru, membuka lapangan kerja di sektor pengumpulan dan pengolahan, serta memperkuat ekonomi sirkular. Limbah yang sebelumnya tidak bernilai kini justru menjadi komoditas strategis dalam pengembangan energi terbarukan.
Dengan berbagai manfaat tersebut, bahan bakar pesawat dari minyak jelantah menjadi contoh nyata bagaimana inovasi energi bersih dapat menjawab tantangan lingkungan, ekonomi, dan keberlanjutan sekaligus. Melalui kolaborasi antara masyarakat, industri, dan pemerintah, minyak jelantah tidak lagi dipandang sebagai limbah berbahaya, melainkan sebagai sumber energi masa depan yang mendukung aviasi rendah karbon dan transisi energi nasional.
#ZONAEBT #Emisi #Karbon #Aviasi
Sumber:
[1] Siapa Sangka? Minyak Jelantah bisa Jadi Bahan Bakar Pesawat?