
- Industri Tetap Dominan: Sepanjang 2020–2024, sektor industri, konstruksi, dan pertambangan non migas menjadi penyerap energi terbesar nasional, seiring pemulihan ekonomi pascapandemi.
- Rumah Tangga dan Transportasi Menguat: Konsumsi energi rumah tangga relatif stabil, sementara sektor transportasi menunjukkan pemulihan kuat seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas logistik.
- Tantangan Transisi Energi: Kenaikan konsumsi energi lintas sektor menegaskan urgensi efisiensi energi dan percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).
Sobat EBT Heroes! transisi energi nasional tidak hanya berbicara soal sumber pembangkit listrik, tetapi juga tentang siapa pengguna energi terbesar dan bagaimana pola konsumsinya berubah dari waktu ke waktu. Memahami struktur konsumsi energi menjadi fondasi penting dalam merancang kebijakan energi yang efektif dan tepat sasaran.
Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Neraca Energi Indonesia yang dirilis pada Rabu (31/12/2025) mencatat perkembangan konsumsi energi nasional sepanjang 2020–2024. Data ini memberikan gambaran jelas sektor-sektor mana yang paling banyak menyerap energi, sekaligus mencerminkan arah pertumbuhan ekonomi dan aktivitas masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Secara umum, konsumsi energi nasional menunjukkan tren meningkat, sejalan dengan pemulihan ekonomi pascapandemi dan ekspansi berbagai sektor produktif.
Baca Juga:
- Struktur Bahan Bakar Pembangkit Listrik Indonesia 2022–2024: Fosil Masih Mendominasi
- Indonesia Jadi Negara Paling Peduli Krisis Iklim di Dunia
Struktur Konsumsi Energi Nasional Menurut Sektor 2020–2024
Berdasarkan data BPS, konsumsi energi Indonesia masih didominasi oleh beberapa sektor utama dengan karakteristik dan dinamika yang berbeda.
1. Industri, Konstruksi, dan Pertambangan: Motor Utama Konsumsi Energi
Sektor industri, konstruksi, dan pertambangan non migas menjadi penyerap energi terbesar nasional sepanjang periode 2020–2024. Pada 2020, konsumsi energi sektor ini tercatat sebesar 2,37 juta terajoule, kemudian meningkat menjadi 2,69 juta terajoule pada 2021.
Lonjakan signifikan terjadi pada 2022, ketika konsumsi energi melonjak ke 3,84 juta terajoule, seiring pulihnya aktivitas industri dan kembali bergulirnya proyek konstruksi berskala besar. Tren kenaikan berlanjut pada 2023 dan 2024 dengan konsumsi masing-masing mencapai 4,16 juta dan 4,52 juta terajoule.
Konsistensi kenaikan ini menegaskan peran sektor industri sebagai motor utama perekonomian nasional, sekaligus sektor dengan kebutuhan energi terbesar dan dampak emisi paling signifikan.
2. Rumah Tangga: Konsumsi Stabil, Basis Pengguna Terluas
Di posisi kedua, sektor rumah tangga menunjukkan konsumsi energi yang relatif stabil sepanjang periode pengamatan. Pada 2020, konsumsi energi rumah tangga tercatat sebesar 1,53 juta terajoule, meningkat tipis menjadi 1,58 juta terajoule pada 2021.
Konsumsi sempat menurun pada 2022, sebelum kembali meningkat pada 2023 dan mencapai 1,66 juta terajoule pada 2024. Pola ini mencerminkan dinamika aktivitas masyarakat, perubahan mobilitas, serta peningkatan penggunaan peralatan listrik rumah tangga.
Meski pertumbuhannya tidak setajam sektor industri, rumah tangga tetap menjadi basis pengguna energi terbesar dari sisi jumlah konsumen, dengan potensi besar untuk efisiensi energi dan pemanfaatan EBT skala kecil seperti PLTS atap.
3. Transportasi: Pemulihan Mobilitas dan Logistik
Sektor transportasi berada di peringkat ketiga dengan dinamika yang cukup jelas. Pada 2020, konsumsi energi transportasi tercatat sebesar 867 ribu terajoule, kemudian meningkat menjadi lebih dari 1 juta terajoule pada 2021, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.
Tren kenaikan berlanjut pada 2022, sebelum mengalami sedikit koreksi pada 2023. Namun pada 2024, konsumsi energi kembali meningkat hingga mencapai 1,25 juta terajoule, mencerminkan pemulihan aktivitas perjalanan, pertumbuhan logistik, dan distribusi barang nasional.
Fluktuasi ini menunjukkan bahwa sektor transportasi sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan mobilitas, sekaligus menjadi sektor kunci dalam agenda elektrifikasi dan penggunaan bahan bakar rendah emisi.
4. Sektor Lainnya: Mulai Tumbuh dan Menguat
Kelompok sektor lainnya mencatat konsumsi energi yang lebih kecil dibanding tiga sektor utama, namun menunjukkan pola yang menarik. Pada 2020, konsumsi energi sektor ini mencapai 395 ribu terajoule, kemudian menurun pada 2021.
Sejak 2022, konsumsi kembali meningkat dan terus naik hingga mencapai 455 ribu terajoule pada 2024. Tren ini menandakan meningkatnya aktivitas ekonomi di luar sektor utama, seperti jasa tertentu dan kegiatan penunjang lainnya.
5. Pertanian: Kecil namun Bertumbuh
Sektor pertanian menjadi pengguna energi paling kecil sepanjang 2020–2024. Konsumsi energi sektor ini relatif rendah pada 2020 dan 2021, lalu mulai meningkat sejak 2022. Pada 2024, konsumsi energi pertanian hampir mencapai 50 ribu terajoule.
Meski volumenya kecil, peningkatan ini mencerminkan modernisasi praktik pertanian, termasuk penggunaan mesin, irigasi berbasis energi, dan teknologi pertanian yang semakin intensif energi.
Konsumsi Energi dan Tantangan Transisi Berkelanjutan

Energi yang dicatat dalam data ini mencakup seluruh energi yang digunakan oleh masing-masing sektor, baik dalam bentuk listrik, bahan bakar minyak, gas, maupun sumber energi lainnya. Energi tersebut digunakan untuk menggerakkan mesin industri, transportasi, peralatan rumah tangga, hingga aktivitas pertanian.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan bahwa struktur konsumsi energi Indonesia masih didominasi sektor industri, disusul rumah tangga dan transportasi. Sementara itu, sektor-sektor lain mulai tumbuh, menandakan semakin luasnya pemanfaatan energi dalam berbagai aktivitas ekonomi.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya memenuhi peningkatan kebutuhan energi, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan konsumsi energi tersebut diimbangi dengan efisiensi energi dan pergeseran menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Di sinilah peran kebijakan, teknologi, dan kesiapan SDM menjadi kunci keberhasilan transisi energi nasional. ⚡🌱
#ZonaEBT #EBTHeroes #TransisiEnergi #KonsumsiEnergi
Sumber: