Struktur Bahan Bakar Pembangkit Listrik Indonesia 2022–2024: Fosil Masih Mendominasi

Pembakit listrik batubara di Indonesia, foto: Freepik
  1. Batubara Masih Dominan: Dalam tiga tahun terakhir, batubara tetap menjadi tulang punggung pembangkit listrik nasional, mencerminkan ketergantungan tinggi sistem kelistrikan Indonesia pada energi fosil.
  2. Gas Alam Kian Menguat: Peningkatan konsumsi gas alam menunjukkan pergeseran bertahap menuju pembangkit dengan emisi lebih rendah, meski skalanya masih terbatas.
  3. Transisi Energi Masih Menantang: Dinamika penggunaan minyak dan diesel menegaskan bahwa percepatan energi terbarukan masih menjadi pekerjaan besar dalam bauran energi nasional.

Sobat EBT Heroes! Pembahasan transisi energi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari fakta mendasar tentang bahan bakar apa yang masih menopang pembangkit listrik nasional. Selama produksi listrik masih bergantung pada sumber energi fosil, upaya penurunan emisi dan dekarbonisasi sistem ketenagalistrikan akan menghadapi tantangan struktural.

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Neraca Energi Indonesia yang dirilis pada Rabu (31/12/2025) menyajikan data penggunaan bahan bakar pembangkit listrik nasional sepanjang periode 2022–2024. Data ini memberi gambaran nyata tentang tingkat ketergantungan Indonesia terhadap jenis bahan bakar tertentu, sekaligus menjadi cermin sejauh mana pergeseran menuju energi yang lebih bersih telah berlangsung.

Secara umum, konsumsi bahan bakar pembangkit listrik menunjukkan fluktuasi dengan kecenderungan meningkat, seiring bertambahnya produksi listrik nasional untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, industri, dan sektor ekonomi lainnya.

Struktur Penggunaan Bahan Bakar Pembangkit Listrik Indonesia 2022–2024

Berdasarkan data BPS, berikut lima bahan bakar terbesar yang digunakan untuk pembangkit listrik nasional selama periode 2022–2024.

1. Batubara: Tulang Punggung Listrik Nasional

Batubara masih menjadi bahan bakar paling dominan dalam sistem ketenagalistrikan Indonesia. Pada 2022, konsumsi batubara untuk pembangkit listrik tercatat sebesar 129,23 juta ton. Angka ini sempat turun menjadi 121,20 juta ton pada 2023, sebelum kembali melonjak ke 133,47 juta ton pada 2024.

Tren ini menegaskan bahwa PLTU batubara masih menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional, terutama untuk pembangkit skala besar di sistem kelistrikan utama seperti Jawa-Bali. Meski berbagai kebijakan transisi energi telah dicanangkan, ketergantungan pada batubara masih sulit dilepaskan dalam jangka pendek.

2. Minyak Solar: Penopang Sistem Terpencil

Di posisi kedua, minyak solar menjadi bahan bakar fosil terbesar berikutnya untuk pembangkit listrik. Penggunaannya relatif stabil selama tiga tahun terakhir, dari 2,61 juta kilo liter pada 2022, meningkat menjadi 2,69 juta kilo liter pada 2023, dan sedikit menurun ke 2,68 juta kilo liter pada 2024.

Konsumsi solar umumnya terkait dengan pembangkit listrik diesel, terutama di wilayah terpencil, kepulauan, dan sistem kelistrikan terisolasi yang belum terjangkau jaringan besar. Kondisi geografis Indonesia membuat solar masih menjadi solusi praktis, meski biayanya tinggi dan emisinya signifikan.

3. Gas Alam: Fosil yang Dianggap Lebih Bersih

Gas alam menempati posisi ketiga dengan tren penggunaan yang terus meningkat. Konsumsi gas alam naik dari 381,62 MMSCF pada 2022 menjadi 417,04 MMSCF pada 2023, dan kembali meningkat ke 460,62 MMSCF pada 2024.

Peningkatan ini mencerminkan peran PLTG dan PLTGU yang semakin penting sebagai penopang sistem listrik nasional. Dibanding batubara, gas alam menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah, sehingga kerap diposisikan sebagai energi transisi sebelum energi terbarukan mengambil peran lebih besar.

4. Minyak Bakar: Fluktuatif dan Kontekstual

Minyak bakar menunjukkan pola penggunaan yang fluktuatif. Pada 2022, konsumsinya tercatat sebesar 176,21 ribu kilo liter, kemudian naik cukup signifikan pada 2023 menjadi 221,07 ribu kilo liter, sebelum turun kembali ke 190,67 ribu kilo liter pada 2024.

Perubahan ini umumnya dipengaruhi oleh faktor harga global, keandalan pasokan, serta kebutuhan cadangan pembangkit, terutama dalam kondisi darurat atau saat terjadi gangguan pada pembangkit utama.

5. Diesel: Kecil namun Tetap Dibutuhkan

Minyak diesel menjadi bahan bakar dengan volume paling kecil di antara lima besar, meski menunjukkan peningkatan dibanding 2022. Konsumsi diesel tercatat sebesar 104 kilo liter pada 2022, melonjak ke 799 kilo liter pada 2023, lalu turun ke 495 kilo liter pada 2024.

Meski kontribusinya relatif kecil, diesel tetap digunakan untuk kebutuhan khusus, seperti pembangkit darurat, cadangan sistem, atau operasi sementara di wilayah tertentu.

Ketergantungan Fosil dan Tantangan Transisi Energi

Ilustrasi energi listrik yang dihasilkan dari berbagai pembangkit di Indonesia, foto: Freepik

Secara keseluruhan, data BPS ini menunjukkan bahwa pembangkit listrik Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, khususnya batubara. Dominasi batubara menegaskan bahwa upaya transisi energi nasional masih menghadapi tantangan besar, baik dari sisi teknologi, investasi, maupun kebijakan.

Di sisi lain, peningkatan penggunaan gas alam memberi sinyal awal adanya pergeseran menuju sumber energi dengan intensitas emisi yang lebih rendah. Namun, tanpa percepatan pengembangan energi terbarukan seperti PLTS, PLTB, PLTA, dan panas bumi, ketergantungan jangka panjang terhadap energi fosil akan sulit dikurangi.

Bagi Sobat EBT Heroes, data ini menjadi pengingat bahwa transisi energi bukan hanya soal menambah kapasitas EBT, tetapi juga tentang mengurangi peran bahan bakar fosil secara bertahap dan terencana. Di sinilah kebijakan, investasi, dan kesiapan SDM menjadi kunci untuk memastikan sistem ketenagalistrikan Indonesia bergerak menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan. ⚡🌱

#ZonaEBT #EBTHeroes #EnergiTerbarukan #TransisiEnergi

Sumber:

[1] Neraca Energi Indonesia 2020-2024