5 Penyebab Perubahan Iklim Menurut Survei, Aktivitas Manusia Mendominasi

Mengetahui beberapa penyebab perubahan iklim, foto: Freepik

Sobat EBT Heroes! Dalam beberapa tahun terakhir, kita semakin sering merasakan cuaca yang tidak menentu. Musim hujan terasa lebih panjang, suhu udara makin panas, dan kejadian cuaca ekstrem kian sering terjadi. Fenomena ini bukan sekadar perubahan biasa, melainkan bagian dari perubahan iklim global yang kini dampaknya semakin nyata hingga ke Indonesia.

Sejak puluhan tahun lalu, para ilmuwan telah memperingatkan bahwa aktivitas manusia memiliki peran besar dalam mendorong pemanasan global. Bahkan, NASA menegaskan bahwa pengaruh aktivitas manusia terhadap pemanasan sistem iklim telah berkembang dari sekadar teori menjadi fakta ilmiah yang terbukti. Artinya, perubahan iklim yang kita alami hari ini tidak lepas dari cara manusia beraktivitas di Bumi.

“Sejak penilaian ilmiah sistematis dimulai pada tahun 1970-an, pengaruh aktivitas manusia terhadap pemanasan sistem iklim telah berkembang dari teori menjadi fakta yang terbukti,” demikian kira-kira kutipan NASA dalam laporan mereka yang membahas soal penyebab perubahan iklim.

Lalu, bagaimana pandangan masyarakat Indonesia terhadap isu ini?

Aktivitas Manusia Dianggap Penyebab Utama Perubahan Iklim

Yale Program on Climate Change Communication merilis laporan bertajuk Climate Change and Energy in the Indonesian Mind yang meneliti persepsi publik Indonesia terhadap perubahan iklim. Salah satu fokus utamanya adalah pandangan masyarakat mengenai penyebab terjadinya perubahan iklim di Tanah Air.

Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni 65%, menilai perubahan iklim disebabkan oleh aktivitas manusia. Sementara itu, 31% responden berpendapat bahwa perubahan iklim terjadi akibat perubahan alami lingkungan. Sisanya menyebut faktor lain, menyatakan perubahan iklim tidak terjadi, atau mengaku tidak tahu.

Meski sebagian besar responden telah menyadari peran manusia, survei ini juga mengungkap bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap isu perubahan iklim masih tergolong terbatas. Hanya 2% responden yang mengaku sangat memahami perubahan iklim, sementara 20% merasa memiliki pemahaman sedang. Namun, Yale menilai kondisi ini tidak serta-merta menunjukkan ketidakpedulian.

Faktanya, banyak masyarakat Indonesia mengaku telah mengamati perubahan pola cuaca dan iklim di lingkungan sekitar mereka. Mereka merasakan suhu yang semakin panas atau musim yang berubah, meskipun belum sepenuhnya mengaitkannya dengan isu perubahan iklim dalam konteks yang lebih luas. Studi ini melibatkan 2.000 responden berusia 18 tahun ke atas dari seluruh wilayah Indonesia, dengan pengambilan data pada 15 Juni hingga 17 Juli 2025, serta margin of error sekitar 2,2% dan tingkat kepercayaan 95%.

Baca Juga:



Gas Rumah Kaca, Jejak Aktivitas Manusia di Balik Perubahan Iklim

Asap kendaraan, salah satu contoh aktivitas manusia yang memperparah perubahan iklim, foto: Freepik

Salah satu mekanisme utama yang mendorong perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Gas-gas ini bekerja dengan menjebak panas Matahari sehingga suhu Bumi terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurut NASA, terdapat empat gas utama yang berperan besar dalam efek rumah kaca, dan hampir seluruhnya memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas manusia.

1. Karbon Dioksida (CO₂)

Karbon dioksida menjadi gas rumah kaca paling dominan yang memicu perubahan iklim. Emisi CO₂ terutama berasal dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas bumi untuk kebutuhan listrik, transportasi, serta kegiatan industri. Aktivitas manusia ini menghasilkan karbon dalam jumlah besar yang dilepaskan ke atmosfer. Selain itu, deforestasi juga memperparah kondisi karena hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyerap karbon justru berkurang akibat alih fungsi lahan.

2. Metana (CH₄)

Selain karbon dioksida, metana juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pemanasan global. Gas ini banyak dihasilkan dari aktivitas manusia di sektor peternakan, terutama melalui proses pencernaan ternak ruminansia. Pengelolaan limbah dan tempat pembuangan sampah juga menjadi sumber utama emisi metana. Tak hanya itu, aktivitas industri minyak dan gas turut menyumbang pelepasan metana ke atmosfer, baik dalam proses produksi maupun distribusi energi fosil.

3. Dinitrogen Oksida (N₂O)

Gas rumah kaca lainnya adalah dinitrogen oksida yang umumnya dilepaskan dari sektor pertanian. Penggunaan pupuk nitrogen dalam jumlah besar menjadi penyumbang utama emisi gas ini. Selain itu, proses industri tertentu serta pembakaran bahan bakar fosil dan biomassa juga berkontribusi terhadap pelepasan dinitrogen oksida ke udara. Meski jumlahnya tidak sebesar karbon dioksida, gas ini memiliki daya pemanasan yang jauh lebih kuat dan mampu bertahan lama di atmosfer.

4. Klorofluorokarbon (CFC)

Sementara itu, klorofluorokarbon atau CFC merupakan gas buatan manusia yang dulu banyak digunakan dalam pendingin ruangan, lemari es, dan produk aerosol. Gas ini tidak hanya berkontribusi terhadap efek rumah kaca, tetapi juga dikenal sebagai perusak lapisan ozon. Meski penggunaannya telah dibatasi secara global melalui berbagai kesepakatan internasional, dampak CFC terhadap iklim dan atmosfer masih terasa hingga saat ini.

Kesadaran Sudah Tumbuh, Aksi Nyata Jadi Tantangan Berikutnya

Baik dari hasil survei maupun temuan ilmiah, satu kesimpulan menjadi semakin jelas: aktivitas manusia merupakan pendorong utama perubahan iklim. Kesadaran masyarakat Indonesia mulai terbentuk, meskipun pemahaman mendalam masih perlu ditingkatkan.

Seperti disampaikan dalam laporan Yale, pemahaman dasar mengenai ancaman perubahan iklim sangat penting agar individu, pembuat kebijakan, dan masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat. Dengan pengetahuan yang lebih baik, upaya menekan emisi gas rumah kaca dan mendorong transisi menuju energi bersih bukan hanya menjadi tanggung jawab global, tetapi juga langkah nyata yang bisa dimulai dari lingkungan terdekat.

#ZonaEBT #Sebarterbarukan #EBTHeroes

Sumber:

[1] Aktivitas Manusia Dinilai sebagai Penyebab Utama Perubahan Iklim

[2] The Causes of Climate Changes