Mitigasi Perubahan Iklim dengan Percepatan Energi Terbarukan

Mitigasi Perubahan Iklim dengan Percepatan Energi Terbarukan
  • Pada tahun 2020, rata-rata temperatur global mencapai di atas 1,2 °C di atas garis dasar batas emisi industri dan nilai ini harus tetap di bawah 1,5 °C sesuai yang tertera pada Paris Agreement.
  • Salah satu agenda global yang selanjutnya akan menjadi fokus setelah kegiatan COP26 adalah pengurangan subsidi batu bara dan bahan bakar fosil.
  • Transisi menuju energi terbarukan merupakan salah satu solusi dalam memitigasi perubahan iklim.
  • UNDP merupakan salah satu partner krusial pemerintah dalam program-program pembiayaan perubahan iklim melalui Sustainable Development Financing (SDF), dan Innovative Financing Lab.

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Pergeseran iklim ini memang terjadi secara alami melalui variasi siklus dari matahari di tata surya kita. Namun, sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim yang terjadi saat ini. Manusia telah bertanggung jawab atas perbuatannya yang mendorong percepatan perubahan iklim terutama akibat dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, minyak dan gas.

Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca yang bertindak seperti selimut yang membungkus bumi, menjebak panas matahari dan menaikkan suhu. Contoh emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim yaitu karbon dioksida dan gas metana. Emisi ini berasal dari penggunaan bahan bakar minyak di sektor transportasi atau batu bara untuk menghasilkan energi listrik. Penyebab lainnya adalah proses pembukaan lahan dan hutan yang juga dapat melepaskan karbon dioksida. Tempat pembuangan sampah merupakan sumber utama emisi gas metana. Energi, industri, transportasi, bangunan, pertanian, dan tata guna lahan termasuk di antara penghasil emisi utama.

Jumlah emisi terus meningkat, hingga pada tahun 2020, rata-rata temperatur global mencapai di atas 1,2 °C di atas garis dasar batas emisi industri. Nilai ini tidak boleh bertambah lagi atau kita harus mempertahankannya untuk tetap di bawah 1,5 °C sesuai yang tertera pada Paris Agreement.

Banyak orang berpikir bahwa perubahan iklim hanyalah kenaikan suhu yang menjadi lebih hangat. Tapi, kenaikan suhu hanyalah awal dari cerita berikutnya. Hal ini disebabkan karena bumi merupakan sebuah sistem, dimana semuanya akan terhubung, perubahan di satu area dapat memengaruhi perubahan di semua area lainnya.

Konsekuensi yang dapat diakibatkan dari perubahan iklim sekarang yaitu kekeringan hebat, kelangkaan air, kebakaran hutan, naiknya permukaan laut, banjir, pencairan es di kutub, badai dahsyat, hingga penurunan keanekaragaman hayati.

Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi kesehatan manusia, kemampuan dalam berbudidaya tanaman pangan, perumahan, hingga keselamatan dan pekerjaan. Orang-orang yang tinggal di negara kepulauan kecil dan negara berkembang lainnya akan menjadi kelompok yang paling rentan akan perubahan iklim. Kondisi seperti kenaikan permukaan air laut dan intrusi air asin telah meningkat ke titik dimana seluruh komunitas harus pindah, dan kekeringan yang berkepanjangan menempatkan orang pada risiko kelaparan.

Baru-baru ini juga dilaksanakan Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2021 yang lebih akrab dikenal sebagai COP26 (Conference of the Parties 26th) yang berlangsung di Glasgow, Skotlandia, 31 Oktober hinga 13 November 2021. Kegiatan ini sangat penting karena untuk pertama kalinya negara di seluruh dunia menyerahkan rancangan mereka masing-masing untuk janji iklim yang akhirnya disepakati pada Paris Agreement 2015 untuk mematasi tingkat pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.

Baca Juga



Program Netralisasi Karbon dengan Energi Terbarukan untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Atasi Perubahan Iklim dengan Energi Terbarukan

Meningkatnya emisi gas rumah kaca membutuhkan beralihnya ekonomi menuju netralisasi karbon. Peralihan sistem ekonomi ini diperlukan untuk menjaga suhu agar tetap berada di bawah batas yang ditentukan pada Paris Agreement. Hal ini juga membutuhkan peningkatan pada sektor pendanaan hijau dalam melaksanakan program mitigasi perubahan iklim.

Maka dari itu, diperlukan perubahan menuju penggunaan energi yang lebih bersih yaitu energi terbarukan. Pergeseran ke sumber terbarukan harus terjadi lebih cepat, tidak hanya di pembangkit listrik tetapi di pemanas, bangunan, dan transportasi untuk memastikan tidak terjadi kenaikan suhu global. Energi terbarukan dapat memasok empat perlima listrik dunia pada tahun 2050, mengurangi emisi karbon secara besar-besaran dan membantu mengurangi perubahan iklim. Tapi tenaga surya dan angin harus terintegrasi penuh, dengan bioenergi berkelanjutan menyediakan bagian penting lain dari campuran.

Agenda global selanjutnya akan fokus pada beberapa hal utama termasuk pengurangan subsidi batu bara dan bahan bakar fosil. Para pemimpin dunia telah mengurangi subsidi yang menurunkan harga batubara, minyak, dan gas alam. Setiap negara juga berfokus dalam meningkatkan sumber energi alternatif seperti energi terbarukan.

Dalam agenda yang masif ini diperlukan peranan para stakeholder khususnya dalam merangkai bentuk pendanaan inovatif untuk mengatasi perubahan iklim. UNDP merupakan salah satu partner krusial pemerintah dalam program-program pembiayaan perubahan iklim melalui Sustainable Development Financing (SDF), dan Innovative Financing Lab.

Bentuk pendanaan ini disalurkan terutama untuk pengembangan sumber energi terbarukan untuk mengurangi sumber emisi di sektor pembangkitan dan energi. Energi terbarukan merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui, menghasilkan emisi yang sangat rendah, serta dapat berkelanjutan. Indonesia sendiri terus mendorong percepatan energi terbarukan melalui berbagai cara seperti kebijakan, perumusan undang-undang, hingga percepatan startup energi bersih. 

Referensi:

[1] What is Climate Change
[2] SDGs Goal 13
[3] Renewable Energy: A key climate solution
[4] COP26: Terobosan dan Hasil Penting dari KTT Iklim Glasgow
[5] Gandeng Berbagai Pihak, UNDP Bantu Indonesia dalam Pembiayaan Perubahan Iklim

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.