Blockchain: Dari Kita dan Untuk Kita, Listrik Berkeadilan

Berita belakangan ini begitu ramai memberitakan tentang mata uang Crypto. Padahal dalam ekosistem crypto banyak hal yang dilibatkan. Salah satunya yaitu Blockchain, sekedar gambaran bahwa blockchain merupakan buku digital digital yang sangat hyped, praktis sehingga memungkinkan cryptocurrency seperti bitcoin untuk berkembang tanpa memerlukan bank dan pemerintah, serta berjanji untuk memungkinkan semuanya dari penciptaan rantai pasokan etis dan pembayaran instan pada pengiriman barang dan layanan yang disepakati dalam kontrak cerdas yang tidak berubah.

Apakah mungkin teknologi dari Blockchain yang begitu kerennya di aplikasikan dalam dunia energi?

Jika dilihat dalam masa pandemi ini, perkembangan teknologi dalam sistem tenaga listrik, terutama perkembangan pembangkit listrik berbasis panel surya sangat begitu pesat. Pada akhirnya masyarakat dapat merubah status dari konsumen listrik menjadi produsen listrik. Harga instalasi panel surya di atap rumah konsumen listrik yang terus menurun membuat konsumen listrik tertarik untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berbasis panel surya ini di rumah atau bangunannya masing-masing.

Baca juga:


Ketika produksi listrik dari PLTS melebihi kebutuhan listriknya, maka mereka dapat menyalurkan kelebihan listriknya berbalik ke jaringan transmisi dan distribusi listrik, sehingga mereka berubah menjadi produsen listrik. Konsumen semacam ini bisa disebut sebagai ”Prosumer”.

Teteapi saat ini di Indonesia, masih berlaku bahwa yang berhak untuk menjual (mendistribusikan) listrik ke pelanggan hanyalah perusahaan PLN. Sama halnya seperti pernyataan berikut ini:

“Bayangkan Anda menanam banyak tomat, tetapi Anda tidak bisa menukarnya dengan tetangga untuk cabe mereka — Anda harus pergi ke supermarket untuk menjual kepada mereka dan membeli dari mereka”,

Adanya aturan seperti itu, pada akhirnya menyulitkan kita semua. Perlu sebuah sistem teknologi yang mampu menjawab permasalahan itu, terlepas dari aturan yg dibuat pemerintah.

Baca juga:


DAHYSATNYA ANGIN INDONESIA MENJADI POTENSI ENERGI TERBESAR DI ASIA

Wakil Gubernur Bali Cok Ace: Apresiasi Tinggi Acara Konvoi Kendaraan Listrik Komunitas DEVA


Kondisi seperti ini secara intuitif menarik untuk diterapkannya teknologi blockchain dalam sistem tenaga listrik yang banyak terdapat para prosumer di dalamnya. Bayangkan ketika seorang prosumer dapat menjual kelebihan listrik yang diproduksinya kepada konsumen atau prosumer yang lain!

Dengan teknologi blockchain, setiap satuan listrik–misalnya dalam satuan energi listrik kWh–yang dihasilkan oleh para prosumer dapat dicatat dalam sistem blockchain yang kemudian setiap satuan listrik ini dapat diverifikasi secara aman dan transparan data-data yang terkandung oleh setiap satuan listrik itu, seperti: oleh siapa listrik tersebut dihasilkan, dari sumber energi apa listrik tersebut dibangkitkan, siapa yang menggunakan listrik tersebut, untuk peralatan apa, siapa yang menjual listriknya dan siapa yang membelinya.

Teknologi serupa ini sudah diterapkan oleh perusahaan asal Amerika serikat bernama Brooklyn Microgrid dan berjalan hingga sekarang.

#energi #pv #solarpanel #listrik #indonesia #blockchain #berkeadilan #kita #pln #bumn #ebt #zonaebt

Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published.