
Sobat EBT Heroes! di tengah suhu bumi yang kian memanas dan tekanan global untuk menekan emisi, sektor ketenagalistrikan kini berdiri di garis depan perjuangan melawan perubahan iklim. Listrik bukan sekadar urusan pasokan energi, melainkan fondasi bagi hampir seluruh aktivitas ekonomi modern dari industri, transportasi, hingga gaya hidup masyarakat. Tak heran, dekarbonisasi listrik menjadi kunci jika dunia ingin benar-benar keluar dari ketergantungan energi fosil.
Menariknya, meski laju dekarbonisasi global masih terbilang lambat, sejumlah negara justru tancap gas lebih cepat. Mereka menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar wacana, melainkan proses nyata yang bisa diakselerasi dengan strategi yang tepat.
Apa Itu Dekarbonisasi dan Dekarbonisasi Listrik?
Dekarbonisasi pada dasarnya adalah upaya sistematis untuk menekan emisi karbon dan gas rumah kaca hingga mendekati nol. Ini bukan hanya soal mengganti teknologi, tetapi juga mengubah cara negara memproduksi dan mengonsumsi energi. Dari sektor industri hingga transportasi, semua bermuara pada satu simpul utama: listrik.
Sektor ketenagalistrikan selama ini menjadi penyumbang emisi terbesar karena masih didominasi pembangkit berbahan bakar fosil, terutama batu bara dan gas. Selama listrik diproduksi dengan intensitas karbon tinggi, elektrifikasi di sektor lain justru berpotensi memindahkan emisi, bukan menguranginya.
Di sinilah dekarbonisasi listrik memainkan peran strategis. Negara-negara yang serius menekan emisi mulai mengganti pembangkit fosil dengan sumber nol karbon seperti surya, angin, air, panas bumi, hingga nuklir. Tak hanya itu, modernisasi jaringan, pemanfaatan penyimpanan energi, dan penguatan fleksibilitas sistem menjadi bagian tak terpisahkan dari transisi ini.
Namun secara global, progresnya masih jauh dari ideal. Dalam rentang 2019–2024, dunia hanya mampu menurunkan intensitas karbon listrik rata-rata 7 gCO₂/kWh per tahun, angka yang menunjukkan betapa beratnya tantangan transisi energi di tingkat global.
Baca Juga:
- Masa Depan yang Dipertaruhkan: Mengenal Perubahan Iklim yang Mengancam Bumi
- Pemerintah Targetkan Net Zero Emission 2060, Bagaimana Meraihnya?
10 Negara Tercepat Lakukan Dekarbonisasi Energi Listrik

Meski gambaran global terlihat lambat, laporan World Resources Institute (WRI) mencatat ada sepuluh negara yang berhasil berlari jauh di depan rata-rata dunia. Negara-negara ini mampu menurunkan intensitas karbon listrik lebih dari empat kali lipat laju global.
Di posisi puncak, Uni Emirat Arab (UEA) tampil sebagai pemimpin dengan penurunan intensitas karbon mencapai 39 gCO₂/kWh per tahun. Lompatan ini dicapai lewat kombinasi ekspansi energi nuklir dan surya dalam waktu yang relatif singkat yang menjadi langkah yang cukup kontras bagi negara penghasil minyak.
Menyusul di belakangnya, Chili dan Portugal berbagi posisi kedua dengan laju 38 gCO₂/kWh per tahun. Keduanya agresif memangkas porsi batu bara dan gas alam, sekaligus memperluas kapasitas energi angin dan surya sebagai tulang punggung sistem listrik nasional.
Peringkat berikutnya ditempati Yunani, Belarus, dan Bulgaria, yang sama-sama mencatat laju dekarbonisasi 35 gCO₂/kWh per tahun. Kombinasi nuklir, angin, dan surya menjadi resep utama untuk menekan emisi pembangkit listrik di negara-negara ini.
Sementara itu, Estonia menyusul dengan capaian 34 gCO₂/kWh per tahun, terutama berkat akselerasi energi angin dan surya. Belanda dan Polandia kemudian berada di belakangnya dengan 31 gCO₂/kWh per tahun, ditopang oleh kebijakan pengurangan gas dan batu bara. Daftar ini ditutup oleh El Salvador, yang berhasil memangkas intensitas karbon listrik hingga 28 gCO₂/kWh per tahun dengan mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.
Daftar ini menunjukkan bahwa tidak ada satu resep tunggal dalam dekarbonisasi listrik. Setiap negara menempuh jalannya sendiri, sesuai dengan sumber daya, kondisi ekonomi, dan prioritas kebijakan masing-masing.
Strategi UEA: Ketika Negara Minyak Memilih Jalan Listrik Bersih
Bagi Uni Emirat Arab, dekarbonisasi listrik bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan keniscayaan. Konsumsi listrik yang tinggi, pertumbuhan ekonomi pesat, serta kondisi iklim ekstrem membuat ketergantungan pada energi fosil semakin sulit dipertahankan. Tanpa perubahan arah, emisi UEA diproyeksikan terus menanjak seiring kebutuhan listrik yang hampir tiga kali lipat pada 2050.
Mengacu pada jurnal The UAE Net-Zero Strategy—Aspirations, Achievements and Lessons for the MENA Region, UEA menempatkan sektor kelistrikan sebagai fondasi utama transisi energi. Listrik rendah karbon dipandang sebagai kunci untuk membuka jalan bagi elektrifikasi transportasi, industri, hingga produksi hidrogen hijau. Tanpa listrik bersih dalam skala besar, target net-zero 2050 dinilai hanya akan menjadi slogan.
Dalam peta jalannya, energi surya menjadi bintang utama. Dengan intensitas matahari tinggi dan lahan yang luas, UEA membangun pembangkit surya skala raksasa dengan biaya yang sangat kompetitif bahkan termasuk yang termurah di dunia. Pada 2050, surya diproyeksikan menyumbang sekitar 50% dari total produksi listrik nasional.
Namun UEA tidak bertaruh pada satu kartu saja. Pembangkit gas alam tetap dipertahankan sebagai penyangga sistem, sembari secara bertahap dipasangi teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCUS). Energi nuklir pun tetap berperan sebagai sumber listrik rendah karbon yang stabil, meski porsinya diperkirakan menurun seiring masifnya ekspansi surya.
Untuk mengatasi tantangan intermitensi, UEA berinvestasi besar pada baterai skala utilitas, digitalisasi jaringan, serta manajemen permintaan listrik. Pendekatan ini membuat listrik surya semakin andal, bahkan ketika matahari tak bersinar. Lebih jauh, integrasi kelistrikan dengan produksi hidrogen hijau menempatkan sektor listrik sebagai pusat dekarbonisasi lintas sektor, dari industri berat hingga ekspor energi bersih.
Pengalaman negara-negara yang bergerak cepat mendekarbonisasi listrik, terutama Uni Emirat Arab, memberi pesan penting bagi Indonesia. Transisi energi bukan sekadar soal ketersediaan sumber daya, melainkan keberanian mengambil arah kebijakan yang jelas dan konsisten. Indonesia, dengan potensi surya, air, panas bumi, dan angin yang melimpah, sejatinya memiliki modal serupa untuk mempercepat dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan.
Tantangannya kini bukan pada teknologi, melainkan pada keberpihakan kebijakan, skala investasi, dan kecepatan eksekusi. Jika Indonesia mampu menjadikan listrik bersih sebagai tulang punggung pembangunan seperti yang dilakukan UEA, maka dekarbonisasi tidak hanya akan menekan emisi, tetapi juga membuka peluang industri baru, memperkuat ketahanan energi, dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di tengah krisis iklim global.
#zonaebt #EBTHeroes #Sebarterbarukan
Sumber:
[2] State of Climate Action 2025
[3] The UAE Net-Zero Strategy—Aspirations, Achievements and Lessons for the MENA Region